iinaza

Pelepas penatku di dunia maya

Kota Siaga, bukan sekedar Administrasi

Posted by iindepok pada Maret 6, 2008

Pembicarakan tentang kota siaga saat ini memang tidak sehangat tahun lalu, karena memang diharapkan tahun ini program siaga sudah dijalankan dengan mantap di berbagai kota.

Tulisan ini hanyalah merupakan analisa pribadi saya mengenai program siaga yg sudah 2 tahun di jalankan di kota Depok. Kalau dilihat dari teorinya dimana kota siaga adalah sistem dimana masyarakat sudah mandiri dalam hal penanganan kesehatan didukung dengan adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai dan pemerintah daerah yang turut membina,memang kota siaga sangatlah ideal dalam memajukan maasyarakat terutama dalam masalah kesehatan.

Akan tetapi pada prakteknya seperti yang saya lihat di kota Depok. Siaga tidak bisa berjalan sebagaimana teorinya. Di sini siaga bisa dikatakan hanya sekedar melengkapi Administrasi.misalnya seperti kasus yang pernah saya temui di wilayah kerja puskesmas Grogol tempat saya bekerja. Seorang ibu hamil(34th) dengan umur kehamilan 36 minggu hamil anak keempat dengan preeklamsia. Selama kehamilannya dia rutin memeriksakan kehamilannya di bidan dekat rumahnya, dan karena preeklamsia dia disarankan oleh bu bidan untuk melahirkan di RS saja karena kemungkinan harus melahirkan melalui operasi cesar. Tetapi pada waktu dia sudah merasa akan melahirkan karena kendala transportasi dia tidak bisa langsung dibawa ke RS oleh keluarganya alasannya karena tidak ada uang untuk naik taksi maupun sekedar mencarter mobil angkot. Akhirnya keluarganya hanya memanggil seorang dukun bayi untuk membantu persalinan si ibu itu. Beruntung si ibu hamil ini bisa melahirkan dengan selamat karena Berat Badan bayi yang tidak terlalu besar. Padahal berdasarkan pernyataan ibu kader di wilayahnya, ibu itu sudah masuk dalam daftar ibu hamil beresiko dan sudah pula dicatat transportasi siaganya siapa, dan donor darah siaganya siapa. Akan tetapi ternyata baik ibu hamil maupun keluarganya itu tidak pernah diberi tahu bahwa si ibu ini sdh mempunyai penyedia transportasi siaga dan pendonor darah siaga. Selain itu orang yang bersedia menjadikan mobilnya sebagai transportasi siaga jg tdk diberitahu ibu hamil yg mana nanti yg harus diantarnya.

Dari cerita diatas bisa diambil kesimpulan bahwa selama ini siaga belum begitu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Siaga mungkin baru sekedar Administrasi yang lengkap dan akurat. Akan tetapi untuk apa Data2 dan Administrasi yang baik itudigunakan belum terlalu dipahami betul2 oleh masyarakat. Dan hal itu merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, pemerintah dan Masyarakat sendiri dlm memperbaikinya.

Masyarakat butuh seesuatu yg real dalam hal peningkatan pelayanan kesehatan. Mungkin akan lebih berguna apabila uang bermilyar milyar yang digunakan untuk pelatihan2 fasilitator2 siaga dan kader siaga itu digunakan untuk menyediakan mobil ambulan di tiap2 kelurahan.. Sehingga masyarakat, terutama yang miskin, tidak akan mengalami lagi yang namanya kendala transportasi…

Dan terakhir, semoga suatu hari nanti Kota siaga yang sesungguhnya benar2 bisa terwujud sesuai dengan yang diidamkan masyarakat. Amiin

11 Tanggapan to “Kota Siaga, bukan sekedar Administrasi”

  1. rara said

    tujuan dari masyarakat secara mandiri mampu melakukan penanganan kesehatan mungkin sedikit berlebihan menurut kacamata saya, karena ini berarti melepas masyarakat untuk melakukan penanganan kesehatan sesuai dengan cara mereka. akan tetapi bila konsep kota siaga ini lebih didorong pada kesiapsiagaan dalam menangani masalah kesehatan yang mungkin timbul, masyarakat malah lebih bisa berperan serta, tentu saja dengan penekanan peningkatan rasa critical sense, masyarakat aware (social awareness) akan adanya kejadian yang tersangkut dengan masalah kesehatan yang membutuhkan ‘concern’ dilingkungan mereka.
    penyediaan ambulan di setiap kelurahan atau rw sekalipun bukanlah sebuah jawaban, selama sistem tetap tidak berjalan. seperti yang sudah dianalisa oleh iin diatas klo permasalahannya adalah tidak berjalannya sistem, disini yang perlu dibuat adalah alur dan monitoring secara terus menerus apakah sistem tersebut berjalan. klo si kader siaga ini diberi tahu step by step, dan saya percaya sudah diberikan pada pelatihan, apa yang harus dilakukan jika ada kasus dengan status ‘siaga’ diharapkan memang akan sukses sistemnya. ada sebuah alat yang dengan mudah dibuat, ketika sebuah kasus ‘siaga’ ditemukan dan komponen-konmponen yang diperlukan sudah ditetapkan, tuliskan dalam secarik kertas contact person yang harus dihubungi jika terjadi hal2 yang mungkin terjadi. komunikasi yang menjadi kunci disini.
    klo sekedar menyediakan ambulan disetiap daerah, kenapa bukan ambulannya puskesmas aja yang selalu siaga setiap saat. tapi tentu saja ini kembali lagi tidak akan mencapai ke tujuan kota siaga semula mewujudkan masyarakat yang mandiri.
    good luck for your program, I am sure that you can find the best way to deal with your people, learn their culture, learn their characteristic, and you’ll find the best way to make them change.

  2. iindepok said

    thanks for ur advice Rara.. mungkin di tulisan aku lupa menuliskan bahwa tdk semua puskesmas mempunyai Ambulance, contohnya seperti puskesmas Grogol. memang sistem yg baik sangat menentukan keberhasilan suatu program agar bejalan sebagaimana mestinya. Dan betul sekali komunikasi adalah kuncinya.. dan komunikasi lintas sektor itu yang sekarang jadi kendala. Mungkin sebaiknya ilmu2 tentang leadership dan manajerial yg kau dpt di Aushie perlu ditularkan juga ke aku..

  3. tiwi said

    Assalammu’alaikum Ibu IIN, saya baru membaca ulasan anda mengenai siaga.Saya sangat setuju dengan pendapat anda.Saya adalah kader yang telah dilatih siaga.Tetapi saya merasa berdosa karena pelatihan yang saya terima belum seluruhnya bisa saya aplikasikan ke masyarakat.Saya merasa saya hanya dikejar target administrasi.Padahal tujuan dari siaga yang utama adalah menurunkan angka kematian ibu melahirkan/nifas dan mengupayakan masyarakat memiliki kesiapan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan dan kegawatdaruratan secara mandiri.Lha, kalo adiminstrasinya bagus tapi tidak ada realisasinya di masyarakat apa bisa disebut siaganya sudah berhasil?
    Siaga komperehensif kan harus melibatkan seluruh unsur di masyarakat.We can’t do that job by self.It’s a team work, good relationship with the other partners.Bukan hanya kader siaga, tapi juga posyandu, PKK, perangkat adminstrasi dari tingkat RT, RW, Kelurahan dan seterusnya.Memang sih, butuh dedikasi yang tinggi untuk mengabdi ke masyarakat.Apalagi kami, para kader, sebagai ujung tombak dari program siaga ini.I just want to say to Ibu IIN, that I am concern about this program.I hope it will be better and better in the future.Godbless us! Wassalammualaikum…
    Regards/Tiwi Cinagka-Sawangan

  4. iindepok said

    @ Tiwi
    Waalaikumsallam bu Tiwi..
    Terimakasih atas kunjungannya ke Blog saya dan komentarnya.. Memang itulah yg sering terjadi bu.. memang alangkah lebih baiknya Adminstrasi yang baik dibarengi dengan kegiatan nyata yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Memang sebenarnya makna siaga adalah kegotongroyongan yaitu bgmn kita bs dg ikhlas saling mem,bantu sesama tanpa imbalan materi. Moga2 makin banyak kader2 yg spt bu Tiwi ini& tdk mengenal lelah.
    BTW kayanya kita pernah ketemu di pelatihan siaga ya bu?
    wassalam

  5. tiwi said

    Ah,Bu IIN SKSD neeh (Sok Kenal Sok Deket), he..he..he..
    Terus terang, saya senang sekali bisa kontak dengan seorang dokter yang mungkin bisa jadi tempat curhat saya (wah, sekarang saya yang SKSD). Begini, bu. Saya merasakan bahwa pelatihan yang menurut bu IIN biayanya milyaran itu, koq seperti sia-sia, ya. Karena ada beberapa teman saya yang tidak dilibatkan dalam siaga itu. Saya tidak tau, siapa yang salah. Saya harap ini cuma miss communication.
    Jujur neeh, kalau mau ada monev, semua baru sibuk, kelabakan membenahi administrasi. Kalau tidak ada monitoring, ya kembali santai aja. Padahal program siaga ini kan harus berkesinambungan seperti posyandu, bukan program dadakan, betul begitu bu dokter? Saya juga berpendapat bahwa para kader itu harus terus dibina, direfresh kembali. Tentu saja ini melibatkan kader senior maupun petugas puskesmas. Setidaknya mereka semakin mengerti bagaimana mengisi administrasi siaga yang menurut saya agak njelimet itu. apalagi bila ada pendataan. Saya sih, maunya data itu harus akurat, tidak main tembak, yang penting semua format terisi. Data itu kan TOP UP, sebagai basic semua tindakan dan kebijakan. Lha, kalau data aja nembak, bagaimana bisa mengambil keputusan dengan benar dan tepat? Hey, saya koq beneran curhat, ya. Tapi saya benar-benar senang banget punya teman milis yang mengerti kondisi kader seperti saya. Tapi pendapat saya jangan dianggap mewakili siapapun ya, bu. Namanya juga curhat, curahan hati, he..he..he..
    Thank’s a lot, bu.Maybe next time we have chance to see face to face. BTW, you are a beautiful doctor. I believe your patients will heal before they get the medicine cause look up to you…
    Best regards/Tiwi-Cinangka

  6. iindepok said

    @ tiwi
    He he..ternyata salah nama. Td pagi saya konfirm ke dr. Sabarina (beliau korcam Limo sekarang) ternyata yg ktm saya itu bu Ani bukan bu Tiwi..
    Saya juga senang bs berhubungan dg kader potensial spt bu Tiwi
    Ya segala pelatihan tetek bengek itu dah jd keputusannya pejabat yg diatas, sy disini cm bawahan yg pendapatnya disalurkan lewat dunia maya saja.Itulah bu efek samping jd pengikut aliran ABS (asal bapak senang) kalo mau di inspeksi aja baru dirapihin segala data dan administrasi.Atau kalo mhsiswa bilang SKS(sistem Kebut semalam). Sebenarnya yg penting dilakukan disini adl menumbuhkan jiwa sosialisme seluruh unsur masyarakat.
    Ah, bu Tiwi berlebihan nih pujiannya (pipi saya jd merah lho..:)
    Salam buat Drg. Rani ya…
    see U

  7. tiwi said

    Assalammu’alaikum dr. IIN, apa kabar?
    Masih sibuk dengan pasien dan para kader? bagaimana dengan siaganya? tidak ada masalah kan dok? Ada satu lagi neeh kerjaan kita. Desember nanti akan ada eliminasi filariasis, jum’at besok, 13 juni 2008 mulai pelatihan buat para kader. Bagaimana di puskes dr. IIN? Seandainya semua orang tau bahayanya filariasis, pasti mudah untuk sosialisasi. Saya sih sudah ikut seminar di UI tentang filariasis. Tapi saya belum pernah terjun langsung untuk eliminasi. Bagi-bagi donk, pengalaman dr. IIN> Paling tidak saya punya gambaran plus minusnya. Oke deh, selamat kerja dokter yang cantik….

  8. iindepok said

    @ Tiwi
    Wa’alaikumsallam..
    Sibuk ngurusin program bu. termasuk Siaga. Lagi ngadain “Road Show” pembinaan kelurahan dan RW siaga, termasuk melatih para kadernya. Iya, Puskes Grogol sudah 3 kali mangadakan pengobatan masal Filariasis. Nanti akan saya tulis pengalaman dalam pelaksanaan pengobatan Filariasis di Grogol dan Krukut. Tunggu saja bu..

  9. Assalamu’alaikum wr wb.

    Senang bisa menemukan website Ibu.
    Saya juga sedang memfasilitasi pengorganisasian Kota Siaga di Kota Cimahi.
    Saya harap Ibu mau berbagi cerita dan pengalaman dengan saya, apalagi jika berkenan berbagi modul-modul yang bermanfaat dalam pendampingan Kota Siaga, jadi Lota Siaga tidak kekadar administrasi saja, bukan dibentuk untuk kemudian ditinggalkan.
    Silakan kunjungi kami di http://www.eurekaindonesia.org.
    Terima kasih.

    Wassalamualaikum wr wb.

  10. iindepok said

    @ Kuspriyanto,Ssi,Apt
    Wa’alaikumsallam Pak Kus..
    Trimakasih atas kunjungannya
    Cerita pengalaman dan pengetahuan saya mengenai siaga bisa bapak baca di tulisan2 saya selanjutnya.
    Insya Allah segera melakukan kunjungan balasan

  11. afip said

    Saya setuju dengan pendapat anda, bahwa desa siaga baru merupakan wacana, belum dirasakan secara riel oleh masyarakat. Dari persoalan itu sebenarnya tidak bisa kita pungkiri bahwa faktor dana adalah permasalahan utamanya. Untuk itu saya mengetuk kesadaran kepada para donatur untuk bisa membantu progran desa siaga. Desa siaga adalah desa yang masyarakatnya memiliki kesiapan sumber daya, kemampuan serta kemauan untuk mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan secara mandiri. Tujuan secara umum desa siaga adalah untuk mewujudkan masyarakat desa yang sehat serta peduli terhadap masalah kesehatan dan kegawatdaruratan kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: