iinaza

Pelepas penatku di dunia maya

PENGOBATAN MASSAL FILARIASIS

Posted by iindepok pada November 19, 2009

Beberapa waktu yang lalu banyak diberitakan di berbagai media bahwa pada pengobatan massal filariasis di Majalaya Bandung terdapat 8 orang meninggal setelah menelan obat filariasis atau banyak orang menyebutnya dengan obat kaki gajah. Dalam tulisan ini nanti saya tidak akan membahas mengenai apa yang menyebabkan mereka meninggal. Tetapi saya hanya akan berbagi pengalaman dengan para pembaca mengenai pengobatan missal filariasi di tempat saya bertugas yang sudah 4 kali atau 4 tahun berjalan

Puskesmas Grogol di kota Depok tempat saya bertugas memiliki 3 kelurahan sebagai wilayah kerja yaitu Grogol, Krukut, dan Meruyung. Pada tahun 2004 ditemukan 2 orang penderita filariasis kronis di Grogol dan 2 orang penderita Filariasis kronis di Krukut. Maka dilakukanlah survey darah jari (identifikasi mikrofilaria dalam darah tepi pada suatu populasi yang bertujuan untuk menentukan endemisitas daerah tersebut dan intensitas infeksinya) di kedua kelurahan tersebut untuk menentukan Mf Rate nya (Mikrofilaria Rate). Dan setelah dilakukan Survei Darah Jari (SDJ) ditetapkan bahwa Mf rate keluarahan Grogol dan Krukut termasuk tinggi yaitu lebih dari 1%. Dengan demikian kedua kelurahan tersebut dinyatakan sebagai daerah endemis filarisis.

 Berdasarkan hasil SDJ tersebut maka dimulailah pengobatan massal filariasis pada bulan Desember tahun 2005 di kedua kelurahan tersebut. Dan hingga kini tahun 2009 pengobatan massal itu sudah hampir dilaksanakan untuk yang kelima kalinya atau yg terakhir. Dan Selama 4 kali pengobatan massal itu berjalan Alhamdulillah tidak pernah ada satu pun kasus efek samping di wilayah kami yang sampai harus dibawa ke RS atau meninggal. Kalaupun ada hanyalah orang merasa panas dingin, mual, diare, pusing, dan gatal2 ringan sehabis minum obat yang bisa disembuhkan dengan obat-obatan yg tersedia di Puskesmas.

Dalam melaksanakan kegiatan tersebut persiapan yang kami lakukan adalah mensosialisasikan kegiatan tersebut ke tingkat kecamatan dan kelurahan, melatih kader pembantu eliminasi 100 kader per kelurahan, dan juga melatih supervisor sebanyak 15 orang per kelurahan (medis dan paramedis). Kami banyak sekali melibatkan kader dan tokoh masyarakat setempat dalam kegiatan ini, dari mulai pendataan, pengemasan obat hingga pelaksanaan di lapangan, sehingga dengan demikian pemberian bekal yang cukup, baik pengetahuan maupun materi kepada kader adalah hal yang sangat penting. Para kader ini adalah ujung tombak pelaksanaan pengobatan filariasis, sehingga harus benar benar dipastikan bahwa para kader tersebut sudah benar2 paham mengenai apa itu penyakit filariasis, apa saja obatnya, berapa dosis yang tepat, siapa saja yang boleh meminumnya, siapa saja yang tidak boleh meminumnya, apa saja efek samping obatnya, apa yang perlu segera dilakukan jika terjadi efek samping, dan juga tentang bagaimana cara pencatatan dan pelaporannya.

Pada hari H kegiatan pengobatan massal ini didirikan pos per RT maupun per RW. Disetiap pos pengobatan di sediakan obat filariasis yang sudah dikelompokkan dalam 3 kelompok umur yaitu umur 2-5 thn, 6-14 thn, dan 15-64thn. Dalam setiap kemasan obat terdapat 3 macam obat yaitu Diethylcarbamazin (DEC), Albendazole, dan Paracetamol. Paracetamol disini sebagai obat untuk mencegah terjadinya efek samping pusing dan panas. Di setiap pos pengobatan juga disediakan obat obatan untuk menanggulangi terjadinya efek samping yang ringan seperti CTM, Antasid dan antalgin/paracetamol. Selain itu di setiap pos pengobatan di pasang pula sebuah pengumuman atau peringatan mengenai aturan minum obat filariasis dan juga mengenai penyakit penyakit yang merupakan kontra indikasi/tidak boleh minum obat dalam pengobatan filariasis ini supaya tidak terjadi hal2 yang tidak diinginkan.

Setiap pos RW dijaga oleh minimal 1 orang medis/paramedis. Kegiatan pengobatan massal filariasis ini dimulai pada sore hari hingga berlanjut sampai dengan 2 hari kemudian. Puskesmas selama 3 hari harus buka selama 24 jam, untuk berjaga-jaga bila sewaktu waktu terjadi kagawatdaruratan pada warga setelah meminum obat filariasis. Sangatlah tidak mungkin apabila puskesmas bekerja sendirian dalam kegiatan ini. Oleh karena itu penting sekali bagi puskesmas dalam hal menjalin kerjasama dengan pelayanan kesehatan dasar (Yankesdas) swasta dalam mendukung kelancaran kegiatan ini seperti : bidan swasta, klinik 24 jam, praktek pribadi, dsb. Oleh karena itu masyarakat yg mengalami efek samping baik yang ringan maupun berat bisa lebih cepat ditangani oleh tenaga kesehatan berkompeten.

Itulah gambaran mengenai pelaksanaan kegiatan pengobatan massal filariasis di tempat saya bertugas yang Alhamdullilah tidak diikuti dengan kejadian efek samping yang berat bahkan kasus meninggal. Semoga bisa ditiru oleh daerah2 lain yang akan dilakukan kegiatan serupa. Harapan kami semoga kegiatan yang bertujuan mulia ini selalu diikuti oleh persiapan yang matang dari instansi terkait, dukungan dari lintas sektoral, dan dukungan yang maksimal dari masyarakat. Sehingga pengobatan massal filariasis ini benar benar bisa membebaskan masyarakat dari ancaman penyakit filariasis.

2 Tanggapan to “PENGOBATAN MASSAL FILARIASIS”

  1. harri said

    nice info….salam kenal….

  2. ana said

    yah hati hati lah …….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: